TARUNALAW : Journal of Law and Syariah 2024-03-01T08:42:03+00:00 Imam Sujono Open Journal Systems <p style="text-align: justify;"><strong>TARUNALAW: Journal of Law and Syariah</strong> is a peer-reviewed open-access international journal published biannually by Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya, Indonesia. The journal covers discussions on positive laws and Islamic laws (Syariah) in Indonesia and other countries. The articles are in Bahasa Indonesia and English because it aims to reach global authors, researchers, and readers. Since this is an open access journal, the available contents are free of charge. Internet users are allowed to read, download, copy, distribute, print, search, link to the full texts of the articles, or use them for any other lawful purpose without asking prior permission from the publisher or the author.</p> TINDAK PIDANA PERDUKUNAN TINJAUAN PASAL 545, 546, 547 KUHP DENGAN PASAL 252 KUHP 2023 2023-12-15T07:17:05+00:00 Aisyah Zafira <p><em>In Indonesia, the practice of black magic is not new. Although the practice is opposed to religion because it associates partners with God, it is still carried out by people who want to achieve their goals practically or harm someone. In the legal regulations in the Criminal Code, the practice of witchcraft is regulated in Articles 545, 546 and 547. In reality, this article is rarely used as a legal basis for the arrest or sentencing of black magic practitioners. The article on black magic has been discussed for a long time in the draft Bill of the Penal Code, there are many pros and cons about this article on shamanism which is called the’pasal santet’. In 2023 the new Penal Code was passed and the article on witchcraft was regulated in Article 252. with the legal research method, this research focuses on examining the normative law that applies in Indonesia with descriptive analysis until this research concludes that the act of shamanism is a disturbing thing, articles 545, 546, and 547 are considered inappropriate in dealing with this, so that article 252 is needed as legal certainty.</em></p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 Aisyah Zafira MAKNA PENCATATAN PERKAWINAN PADA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DITINJAU DALAM HUKUM ISLAM 2024-02-11T07:28:57+00:00 adrianto anto <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This research is motivated by invalidity unregistered marriage based on Positive law and Islamic law. In Islamic law marriage registration is condicio sine quanon is istinbath of Islamic law. Marriages that are not registered according to the regulations of Islamic law for condicio sine quanon for marriage registration be a contradictory matter what happens in practice wedding in the middle of public. This study aims to determine The mean a recording of marriage In istinbath of islamic law and want to know in mean of recording of marriage in islamic law And want to know the mean of recording of marriage in an effort to realize goals Maslahah which is on public. This research uses qualitative approach with library research. The research results show abouth the recording of marriage is condicio sine quanon in istinbath of Islamic law and meaning of recording of marriage in Islamic law is is as evidence next to the witnes. The mean of recording of marriage in an effort to realize goals Maslahah which is on public as Maslahah Daruriyyah like a guard that must be maintained Is ad-Din, an-Nafs, al-‘Aql, an-Nasab wa al-Mal.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstrak</strong><br>Penelitian ini dilatar belakangi oleh ketidakabsahan pernikahan yang tidak dicatatkan berdasarkan hukum positif dan hukum Islam. Dalam hukum Islam pencatatan pernikahan adalah sebagai syarat mutlak dalam istinbath hukum Islam. Pernikahan yang tidak dicatatkan dengan aturan hukum Islam mengenai syarat mutlak bagi pencatatan perkawinan menjadi perkara yang kontradiktif yang terjadi dalam praktek pernikahan di tengah masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna pencatatan perkawinan dalam istinbath hukum Islam dan ingin mengetahui makna pencatatan dalam hukum Islam. Serta ingin mengetahui makna pencatatan pernikahan dalam upaya merealisasikan tujuan maslahah yang ada pada diri manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research). Hasil penelitian menunjukan bahwa makna pencatatan pernikahan adalah syarat mutlak dalam istinbath hukum Islam dan makna pencatatan pernikahan adalah sebagai alat bukti di samping saksi dalam hukum Islam. Makna pencatatan pernikahan dalam upaya merealisasikan tujuan maslahah yang ada pada diri manusia adalah Maslahah Daruriyyah seperti penjagaan yang harus dijaga adalah ad-Din, an-Nafs, al-‘Aql, an-Nasab wa al-Mal.</p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 adrianto anto PELAKSANAAN KAWIN PAKSA SEBAGAI TUNTUTAN ADAT DALAM PERSPEKTIF HUKUM POSITIF DAN HAK ASASI MANUSIA 2024-02-02T15:25:11+00:00 Nabila Maharani <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Forced marriages are often a hotly debated issue among the public because they are considered to have violated the rules that have been legalized in the laws enacted by the government. However, this is inversely proportional to the perception of ordinary people in some regions in Indonesia who view forced marriage as something that must be done to fulfill the customs that have been followed for generations. Therefore, there are differences of opinion and views between positive law and customary law regarding forced marriage. According to positive law, forced marriages due to customary demands are considered to have violated human rights. With this in mind, the researcher is interested in conducting an assessment of the implementation of forced marriages that often occur in Indonesia by using the library research method by examining the literature related to the topic of discussion.</em></p> <p><strong><em>Keywords: </em></strong><em>Forced Marriage, Customary Law, Human Rights</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Pernikahan yang dilakukan secara paksa seringkali menjadi isu yang menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat karena dianggap telah menyalahi aturan yang telah disahkan dalam undang-undang yang diberlakukan oleh pemerintah. Namun, hal ini berbanding terbalik dengan anggapan masyarakat awam sebagian daerah di Indonesia yang memandang bahwa pernikahan paksa merupakan suatu hal yang harus dilakukan untuk memenuhi adat istiadat yang telah diikuti secara turun temurun. Sehingga terdapat perbedaan pendapat dan juga pandangan antara hukum positif dan hukum adat mengenai pernikahan paksa. Dimana menurut hukum positif, pernikahan paksa karena tuntutan adat merupakan tindakan kekerasan seksual dan dianggap telah melanggar hak asasi manusia. Dengan adanya hal tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan pengkajian terhadap pelaksanaan pernikahan paksa yang sering terjadi di Indonesia dengan menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan cara mengkaji literatur-literatur yang berkaitan dengan topik kajian.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Pernikahan Paksa, Hukum Adat, Hak Asasi Manusia</p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 Nabila Maharani TENGGANG WAKTU PENGAJUAN PERMOHONAN FIKTIF POSITIF BERDASARKAN UU NO 8 TAHUN 2017 2024-02-03T06:35:08+00:00 Abdulloh Afifil Mu'ala Muhammad Habibur Rochman <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Positive fiction is the silent attitude of the State Administrative Body or Official (TUN) towards State Administrative Decision that are intangible and considered as granting the submitted request. Provisions regarding Positive Fictional Decisions are stipulated in Article 53 of the Administrative Court Law (UUAP) and Supreme Court Regulation No. 8 of 2017. In Positive Fictional Decisions, there is a time limit of 10 (ten) working days after the request is received. This study examines the mechanism of the time limit for Positive Fictional Requests based on the Law on Government Administration Number 30 of 2014 concerning Government Administration, and the time limit process in one example of a positive fictional request case against Decision Number: 17/P/FP/2019/PTUN.SBY at the State Administrative Court in Surabaya based on Law Number 8 of 2017 concerning Procedural Guidelines for Obtaining Decisions on the Acceptance of Requests to Obtain Decisions on the Actions of Government Bodies or Officials.</em> <em>In addressing this issue, the author uses a normative juridical approach. The method involves analyzing legal concepts, legislation, and case studies related to the decision. In collecting data, the author uses the method of collecting data through document/library research. The results of this study emphasize the need to provide awareness to Government Officials about the importance of responding to requests within a period of 10 (ten) working days. There is also a necessity to establish implementing regulations for the Law on Government Administration, which detail, explain, and emphasize the norms in each provision, particularly those related to expansions found in Law Number 8 of 2017 concerning Procedural Guidelines for Obtaining Decisions on the Acceptance of Requests to Obtain Decisions on the Actions of Government Bodies or Officials.</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Fiktif Positif merupakan sikap diam Badan atau Pejabat TUN pada Keputusan TUN yang tidak berwujud dan dianggap mengabulkan permohonan yang telah diajukan. Ketentuan mengenai Keputusan Fiktif Positif terdapat dalam Pasal 53 UUAP dan Perma No. 8 Tahun 2017. Dalam keputusan Fiktif Positif terdapat tenggang waktu 10 (sepuluh) hari kerja setelah permohonan diterima. Dalam penelitian ini mengkaji tentang mekanisme tenggang waktu Permohonan fiktif positif berdasarkan Undang-Undang Administrasi Pemerintahan Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan, dan proses tenggang waktu pada salah satu contoh perkara permohonan fiktif positif terhadap Putusan Nomor : 17/P/FP/2019/PTUN.SBY di Pengadilan Tata Usaha Negara Surabaya Berdasarkan Undang – Undang Nomor 8 Tahun 2017 Tentang Pedoman Beracara Untuk Memperoleh Putusan Atas Penerimaan Permohonan Guna Mendapatkan Keputusan Atas Tindakan Badan Atau Pejabat Pemerintahan. Dalam persoalan tersebut, penulis menggunakan pendekatan yuridis normatif. Menggunakan metode pendekatan analisis konsep hukum, analisis perundang-undangan, dan pendekatan kasus yang berkaitan dengan Putusan Dalam pengumpulan data, mempergunakan metode pengumpulan data melalui studi dokumen/ kepustakaan (<em>library research</em>). Hasil penelitian ini adalah memberikan sosialisasi kepada Penjabat Pemerintahan tentang pentingnya menanggapi Permohonan dalam kurung waktu 10 (sepuluh) hari kerja. Perlunya dibuat peraturan pelaksana dari Undang-Undang Administrasi Pemerintahan, yang menguraikan, menjelaskan dan menegaskan mengenai norma-norma dalam setiap ketentuan khususnya terkait dengan perluasan yang terdapat di dalam Undang – Undang Nomor 8 Tahun 2017 Tentang Pedoman Beracara Untuk Memperoleh Putusan Atas Penerimaan Permohonan Guna Mendapatkan Keputusan Atas Tindakan Badan Atau Pejabat Pemerintahan.</p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 Abdulloh Afifil Mu'ala, Muhammad Habibur Rochman Constitutional Disobedience Peninjauan Kembali Lebih Dari Satu Kali Dalam Sistem Peradilan Pidana 2024-02-10T15:43:15+00:00 Rafi Pravidjayanto <p>Putusan Mahkamah Konstitusi No. 34/PUU-XI/2013 telah meruntuhkan tembok limitatif terhadap upaya hukum Peninjauan Kembali yang boleh dilakukan lebih dari satu kali atas pertimbangan adanya bukti (Novum) baru. Dimana sebelumnya Peninjauan Kembali secara tegas diatur dan dilimitasi oleh Pasal 268 KUHAP yang menyatakan dalam sistem peradilan pidana, Peninjauan Kembali hanya dapat dilakukan maksimal 1 (satu) kali. Hal ini mendapatkan reaksi dari Mahkamah Agung melalui Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 7 Tahun 2014 tentang Pengajuan Permohonan Peninjauan Kembali dalam perkara pidana yang sama lebih dari 1 (satu) kali tidak dapat diterima. Mahkamah Konstitusi dalam putusannya mengedepankan keadilan, sedangkan Mahkamah Agung dalam SEMA mengedepankan kepastian hukum. Adanya pertentangan tersebut memunculkan adanya indikasi pembangkangan terhadap konstitusi (constitutional disobedience), serta memberikan ketidakpastian pada pencari keadilan. Penelitian ini menggunakan metode normatif dengan pendekatan Critical Legal Studies, Perundang-undangan, dan Konseptual. Sehingga memberikan hasil berupa hasil bentuk constitutional disobedience dalam putusan Mahkamah Konstitusi serta arah pengaturan terkait peninjauan kembali berbasis keadilan proporsional.</p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 Rafi Pravidjayanto Analisis Pemberian Keringanan Hukuman Terhadap Justice Collaborator Perspektif Fiqh Jinayah 2024-02-11T08:43:35+00:00 Hutmi Amivia Ilma Nabila Maharani <p>Banyaknya kejahatan yang terjadi yang melibatkan individu atau sekelompok orang yang memiliki kekuasaan atau koneksi yang besar mengakibatkan ciutnya nyali masyarakat untuk melaporkan kejahatan yang terjadi kepada penegak hukum. Hal tersebut disebabkan karena adanya kekhawatiran terhadap keselamatan akan dirinya dan juga orang disekitar. Dengan demikian, aparat penegak hukum harus melibatkan seseorang atau lebih tersangka yang ikut serta dalam kejahatan tersebut sebagai saksi atau yang biasa disebut sebagai <em>justice collaborator </em>dengan memberikan jaminan berupa pengurangan hukuman sebagai bentuk penghargaan. Berdasarkan pada hal tersebut, tumbuh rasa ketertarikan penulis untuk melakukan analisa mengenai bagaimana pandangan hukum Islam atau <em>fiqh jinayah </em>terhadap perlindungan saksi dan korban, khususnya perlindungan bagi seorang saksi pelaku atau <em>justice collaborator </em>yang telah bersedia melakukan kerjasama dengan para penegak hukum guna membongkar kejahatan yang telah dilakukan. Penelitian ini termasuk pada penelitian normatif serta dalam pengumpulan datanya menggunakan teknik studi pustaka. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat dipahami bahwa pada dasarnya Islam telah mempunyai konsep yang lebih jelas dan sempurna mengenai kewajiban yang sudah seharusnya dijalankan oleh seorang saksi sebagai upaya dalam mengungkap kebenaran dari suatu kasus. Hukum Islam juga telah menjelaskan mengenai akibat apa yang akan ditanggung oleh seorang saksi apabila memberi kesaksian palsu.</p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 Hutmi Amivia Ilma, Nabila Maharani Pudarnya Kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara dalam Sengketa Perizinan atas Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) 2024-02-11T14:28:37+00:00 Muhammad Alvin Nashir Alvin Nashir <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The State Administrative Court has&nbsp;the authority to examine, adjudicate and decide a dispute within the administrative scope.&nbsp;The authority in question has 2 types, namely the relative and absolute authority or competence of a judiciary that must be understood by the reader.&nbsp;This research refers to the State Administrative court.&nbsp;Absolute competence itself discusses the jurisdiction of the court can handle any dispute according to time standards by the parties in order to file an application.&nbsp;This is called negative fictitious and positive fictitious.&nbsp;Negative fictitious was originally known in the Law on Agriculture until it was abolished with positive fictitious as stated in the State Administration Law.&nbsp;The positive fictitious also underwent changes contained in the Job Creation Law.&nbsp;Positive fictitious changes in the Job Creation Law will be the object of research in this study.&nbsp;This article will discuss the waning authority of the TUN Court, especially licensing disputes.&nbsp;The dispute discusses&nbsp;the&nbsp;approval given by the government (TUN Agency/Official) to individuals or legal entities to carry out certain activities. The lack of authority of the Court has&nbsp;become a public concern because there are prolonged problems both from the blurring of authority it has lost, ambiguity in the Article and the consistency of the TUN Court to examine, try and decide TUN cases.&nbsp;In writing this study, the author uses a juridical-normative research method that discusses the benchmarks and implementation of the statutory system in practice in the TUN court&nbsp;as a whole</em><em>. </em></p> <p><strong><em>Keywords:</em></strong><em>&nbsp; </em><em>Authority, Positive Fictitious, State Administrative Court, Licensing Disputes.</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Peradilan Tata Usaha Negara mempunyai kewenangan untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu sengketa dalam lingkup keadministrasian. Kewenangan yang dimaksud mempunyai 2 jenis yakni kewenangan atau kompetensi relatif dan absolut suatu peradilan yang harus dipahami oleh pembaca. Penelitian ini merujuk terhadap pengadilan Tata Usaha Negara. Kompetensi absolut sendiri membahas tentang yurisdiksi pengadilan tersebut dapat menangani sengketa apa saja sesuai standarisasi waktu oleh para pihak agar dapat mengajukan permohonan. Hal tersebut disebut dengan fiktif negatif dan fiktif positif. Fiktif negatif mulanya dikenal dalam UU Peratun hingga dihapuskan dengan fiktif positif yang tertuang dalam UU Administrasi Negara. Adapun fiktif positif juga mengalami perubahan yang termaktub dalam UU Cipta Kerja. Perubahan fiktif positif dalam UU Cipta Kerja akan menjadi objek penelitian dalam penelitian ini. Artikel ini akan membahas tentang pudarnya kewenangan dari Pengadilan TUN khususnya sengketa Perizinan. Sengketa tersebut membahas tentang persetujuan yang diberikan oleh pemerintah (Badan/Pejabat TUN) kepada individu atau badan hukum untuk melakukan aktivitas tertentu. Pudarnya kewenangan Pengadilan ini menjadi perhatian publik pasalnya terjadi masalah berkepanjangan baik dari kaburnya kewenangan yang dihilangnya, ambiguitas dalam Pasal dan eksistensi Pengadilan TUN untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara TUN. Pada penulisan penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian yuridis-normatif yang membahas tolak ukur dan implementasi sistem peraturan perundang-undangan di dalam praktik di pengadilan TUN secara menyeluruh.</p> <p><strong>Kata Kunci</strong>: Kewenangan, Fiktif Positif, Pengadilan Tata Usaha Negara, Sengketa Perizinan.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 Muhammad Alvin Nashir Alvin Nashir Penerapan Sanksi Pidana dan Pemenuhan Hak Restitusi Anak Sebagai Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang 2024-02-21T04:00:36+00:00 Hutmi Amivia Ilma <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This paper discusses the act of trafficking in persons as an extraordinary crime that degrades the lives of others in order to solely benefit themselves. Poverty is one of the biggest causes of trafficking despite other factors, such</em><em> as legal policies and gender inequality. Children are the most vulnerable victims of trafficking crimes, especially those who are economically and educationally disadvantaged. The writing of this study is intended to determine how the form of implementing criminal sanctions and granting restitution rights to children as victims of trafficking crimes. The writing of this research applies normative legal research methods, namely by using various laws, decisions, and regulations that have been made or based on community norms and rules as well as various academic texts and research results of relevant experts. The result of this study is that the application of criminal sanctions in the form of imprisonment and fines given to traffickers has been formulated in the Criminal Code and outside the Criminal Code by taking into account the classification of perpetrators in committing trafficking crimes. In the event that the fulfillment of the victim's rights is given by providing restitution which is the obligation of the perpetrator to the victim which has been regulated through a separate mechanism.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dalam penulisan ini membahas permasalahan mengenai tindakan perdagangan orang sebagai tindak kejahatan luar biasa yang merendahkan derajat hidup orang lain untuk semata-mata mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Kemiskinan menjadi salah satu faktor terbesar dalam terjadinya tindak pidana perdagangan orang, di samping juga terdapat faktor lainnya, seperti kebijakan hukum dan ketimpangan gender. Anak merupakan korban yang paling rentan untuk menjadi objek dalam tindak pidana perdagangan orang, terutama mereka yang kurang mampu secara ekonomi dan pendidikan. Penulisan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana bentuk penerapan sanksi pidana dan pemberian hak restitusi terhadap anak sebagai korban dari tindak pidana perdagangan orang. Penulisan penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian hukum normatif, yaitu dengan menggunakan berbagai analisis undang-undang, keputusan, dan peraturan yang telah dibuat atau didasarkan pada norma dan aturan masyarakat, serta berbagai naskah akademik dan hasil penelitian para ahli yang relevan. Hasil dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana penerapan sanksi pidana berupa pidana penjara dan pidana denda yang diberikan kepada pelaku perdagangan orang sebagaimana telah dirumuskan dalam KUHP maupun di luar KUHP dengan memperhatikan klasifikasi pelaku dalam melakukan tindakan tersebut. Dalam hal pemenuhan hak korban, dilakukan dengan pemberian hak restitusi yang menjadi kewajiban pelaku terhadap korban yang telah diatur melalui mekanisme tersendiri.</p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 Hutmi Amivia Ilma ALTERNATIVE DISPUTE RESOLUTION (ADR) BERBASIS AL-QUR’AN 2024-02-21T04:36:42+00:00 Larasati Fitriani Asis <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>Dispute resolution is an integral part of the legal system which functions to maintain peace and justice in society. One alternative approach that is gaining increasing attention is Alternative Dispute Resolution (ADR). This article aims to present an Alternative Dispute Resolution (APS) based on the Al-Qur’an. The research method used is a literature study, by reviewing the text of the Al-Qur'an and literature related to Alternative Dispute Resolution (APS) and Islamic law. The research results show that Al-Qur'an-based dispute resolution can be a valuable alternative in the modern context, not only because of its conformity with Islamic values, but also because of its ability to offer effective and sustainable solutions to resolve disputes in society fairly.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penyelesaian sengketa adalah bagian integral dari sistem hukum yang berfungsi untuk menjaga kedamaian dan keadilan dalam masyarakat. Salah satu pendekatan alternatif yang semakin mendapatkan perhatian adalah Alternatif Penyelesaian Sengketa (Alternative Dispute Resolution - ADR). Artikel ini bertujuan untuk menyajikan Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) berbasis Al-Qur'an. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian literatur, dengan meninjau teks Al-Qur'an dan literatur terkait Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) serta hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa berbasis Al-Qur'an dapat menjadi alternatif yang berharga dalam konteks modern, tidak hanya karena kesesuaiannya dengan nilai-nilai Islam, tetapi juga karena kemampuannya untuk menawarkan solusi yang efektif dan berkelanjutan untuk menyelesaikan sengketa dalam masyarakat dengan adil.</p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 Larasati Fitriani Asis Telaah Terhadap Banyaknya Permohonan Praperadilan Yang Gagal 2024-03-01T08:42:03+00:00 Zuman Malaka <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>The Pretrial Institution is the authority possessed by the District Court to examine and decide whether or not the arrest and/or detention of a suspect is legal, terminate the investigation or prosecution, as well as request for compensation or rehabilitation by the suspect. This research uses a type of library research, namely research related to reading, recording and managing materials used in activities related to research. The data collection technique uses library research. The results of the study show that many pretrial application practices fail due to failure to fulfill formal and material requirements as well as inconsistencies between the arguments submitted and a lack of sufficient evidence to justify the pretrial application.</em></p> <p><strong>Keywords:</strong> Application, Pretrial</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Lembaga Praperadilan adalah kewenangan yang dimiliki oleh Pengadilan Negeri untuk memeriksa dan memutus sah atau tidaknya penangkapan dan atau penahanan tersangka, penghentian penyidikan atau penuntutan, serta permohonan ganti rugi atau rehabilitasi oleh tersangka. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (<em>library research</em>), yakni penelitian yang berkenaan dengan membaca, mencatat dan mengelola bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan yang berkaitan dengan penelitian. Teknik pengumpulan datanya menggunakan studi kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa banyaknya praktik permohonan praperadilan yang gagal dikarenakan tidak memenuhi syarat formil dan materiil serta ketidaksesuaian antara argumen yang diajukan serta kurangnya bukti yang cukup untuk membenarkan permohonan praperadilan tersebut.</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> Permohonan, Praperadilan</p> 2024-01-31T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2024 Zuman Malaka